KBS Dua Periode Menggema

oleh -861 Dilihat
Gubernur Bali Wayan Koster

DENPASAR, POS BALI – Koster Bali Satu (KBS) dua periode mulai menggema di Bali. Hal itu tidak terlepas dari kinerja Wayan Koster selama menjadi Gubernur Bali dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru.

Bahkan, pembangun Bali berlandaskan kearifan lokal itu telah dia rancang jauh-jauh hari sebelum terpilih menjadi wakil pemerintah pusat di Pulau Dewata ini.

Pelan tapi pasti kendatipun di tengah pandemi, rencana pembangunan untuk mewujudkan krama Bali sejahtera sekala dan niskala itu pun telah terbukti.

Dengan konsep bekerja secara tulus, lurus, dan fokus, program pembangunan Bali itu sudah terwujud dan bisa dilihat dengan kasat mata.

Diantaranya pembangunan infrastruktur transportasi terkoneksi darat, laut, udara yakni pembangunan shortcut Mengwi-Singaraja, Pelabuhan Segitiga Emas Sanur, Nusa Penida, dan Nusa Ceningan.

Kemudian pembangunan penataan Kawasan Pura Besakih, pembangunan jalan Tol Gilimanuk Mengwi yang kini sedang tahap tender dan pemberdayaan Desa Adat di Bali.

Dan program yang paling monumental, yakni pembangunan kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Gunaksa, Klungkung. Pembangunan dilaksanakan di atas lahan terbengkalai eks galian C.

Kawasan PKB ini dia didedikasikan kepada generasi di masa yang akan datang sebagai salah salah satu warisan monumental nan abadi, menjadi tonggak sejarah Bali Era Baru dan kemajuan kebudayaan di Bali.

Seperti tercatat dalam sejarah, jejak keemasan peradaban Kebudayaan Bali pernah dicapai pada Era Kerajaan Gelgel, Klungkung di bawah pemerintahan Raja Dhalem Baturenggong Wijaya Kresna Kepakisan pada abad ke-16.

Tak terhenti sampai disitu, Koster asal Sembiran Buleleng ini juga memperkuat benteng pertahanan budaya Bali dengan membangun Gedung Majelis Desa Adat (MDA) di seluruh kabupaten/kota, dan juga di satu gedung untuk MDA tingkat provinsi.

Uniknya, pembangunan gedung megah berlantai dua untuk tingkat kabupaten/kota, dan gedung megah berlantai tiga untuk provinsi itu, sebagian besar tidak menggerogoti APBD maupun APBN.

Melainkan, gedung untuk melayani krama Bali itu bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan swasta yang ada di Bali.

Kegetolan terhadap kearifan lokal dan juga masyarakat bawah juga dibuatkan regulasi. Bahkan, kebijakan itu kini sudah dirasakan langsung masyarakat kecil.

Yakni petani arak Bali. Minuman beralkohol khas Bali ini sudah naik kelas, menyaingi brand luar. Karena, arak Bali itu kini dikemas dengan sedemikian rupa sehingga memiliki nilai jual tinggi.

Melihat rekam jejak selama mengemban tugas menjadi gubernur, sudah selayaknya Wayan Koster dipertimbangkan dan disuarakan untuk memimpin Bali dua periode.

Mengingat, perlu orang yang tulus lurus dan focus dalam menjaga, melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali secara berkelanjutan.

Karena Bali wilayahnya yang kecil atau hanya 5.456 Km persegi, penduduknya cuma 4,3 juta orang yang tersebar di 8 kabupaten dan 1 kota, 57 kecamatan, 636 desa, 80 kelurahan, dan 1.493 desa adat ini penuh dengan tantangan dan ancaman.

Selain menjadi tujuan destinasi wisata dunia, dan banyak yang berkepentingan terhadap Bali, seperti kepentingan politik, agama, ekonomi, budaya dan kepentingan lainnya yang datang dari luar masuk ke Bali.

Kalau sampai budaya di Bali rusak, Bali maka akan tinggal nama dan tidak akan bisa lagi survive menghadapi perkembangan zaman, modernisasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali merupakan satu – satunya kekayaan yang kita miliki, kita banggakan sebagai warisan adiluhung leluhur Bali yang harus kita jaga. Karena akibat budaya Bali, Pulau ini menjadi daya tarik wisatawan domestik dan internasional. alt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *