Pancasila Satukan 300 Suku, 700 Bahasa, dan 17 Ribuan Pulau

oleh -249 Dilihat
Gubernur Bali Wayan Koster

DENPASAR, POS BALI – Hari Lahir Pancasila telah dituangkan dalam Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila oleh Presiden RI, Ir. Joko Widodo (Jokowi). Hal tersebut disampaikan Gubernur Bali, Wayan Koster saat membuka Bulan Bung Karno IV Provinsi Bali, bertema ‘AdiCitta Danu Kerthi: Menstanakan Air dalam Diri’ (Refleksi Kepemimpinan Bung Karno) di Provinsi di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Rabu (1/5).

Koster menegaskan, Pancasila merupakan ideologi yang mempersatukan 300 suku bangsa, dengan 700 bahasa, dan 17.000-an pulau. Ideologi yang memayungi keberagaman Indonesia, sekaligus fondasi tercapainya cita-cita Indonesia Raya. Dikatakan, peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni oleh Pemerintah Provinsi Bali, sejak Tahun 2019 hingga kini telah menginjak pelaksanaan ke-4, dirangkai dalam keutuhan Perayaan Bulan Bung Karno Provinsi Bali yang diatur melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 19 Tahun 2019 tentang Bulan Bung Karno di Provinsi Bali.

“Provinsi Bali merupakan satu-satunya Provinsi di Indonesia yang menyelenggarakan Bulan Bung Karno. Seperti kita ketahui bersama, bulan Juni, merupakan bulan dengan hari-hari penting dan sakral yang tertaut dengan keberadaan Bapak Bangsa Bung Karno,” katanya.

Lanjutnya, pada tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila; 6 Juni Hari Lahir Bung Karno; dan 21 Juni hari Wafat Proklamator Bung Karno. “Untuk mengenang, menghormati, memaknai, dan memuliakan hari-hari penting tersebut, kita menyelenggarakan Bulan Bung Karno pada setiap bulan Juni, secara serentak dari provinsi, kota/kabupaten, desa/kelurahan, dan satuan pendidikan di seluruh Bali,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, selain sebagai wujud penghormatan dan bhakti kepada Bung Karno yang merupakan Bapak Pendiri Bangsa yang telah merumuskan dasar negara, penyelenggaraan Bulan Bung Karno di Provinsi Bali memiliki tujuan mulia, yaitu: mengarusutamakan Pancasila dalam kehidupan masyarakat Bali dalam berbangsa dan bernegara. Meningkatkan pemahaman masyarakat Bali tentang sejarah, filosofi dan nilai-nilai Pancasila. Memperkokoh semangat kebangsaan dan inklusi sosial di tengah kontestasi nilai (ideologi) dan kepentingan yang mengarah kepada menguatnya kecenderungan politisasi identitas.

“Membangkitkan dan memelihara memori kolektif masyarakat Bali tentang ketokohan dan keteladanan Ir. Soekarno sebagai penggali Pancasila dan Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia. Dan, memperkuat institusionalisasi nilai-nilai Pancasila, dan spirit perjuangan Bung Karno sesuai dengan kearifan lokal Bali,” sebutnya.

Sementara itu, terkait tema AdiCitta Danu Kerthi: Menstanakan Air dalam Diri, Koster menjelaskan bahwa itu sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.

Tema ini, lanjut dia, dapat menjadi wahana bagi penyebarluasan dan internalisasi Pancasila serta ajaran-ajaran Bung Karno secara nyata dalam upaya pelindungan dan pelestarian alam semesta. Tema ini juga mengajak seluruh pemimpin, tokoh masyarakat, dan krama Bali untuk meneladani karakter kepemimpinan Bung Karno, yang mengayomi dan menyejukkan; kepemimpinan yang mengutamakan nilai-nilai kebersamaan, kegotongroyongan, dan berorientasi pada kemajuan bersama.

“Kita di Bali diwariskan nilai-nilai kearifan lokal yaitu hidup yang menghidupi, urip yang menguripi, pulih bersama, tumbuh bersama, hidup bersama, berkembang bersama, kuat bersama, dan manfaat bersama,” ajaknya.

Kepemimpinan yang sejuk, juga berorientasi pada semangat konservasi atas seluruh sumber mata air, danau, dan juga sungai. Implementasi Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali yang berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Danu Kerthi secara niskala-sakala menjadi lelaku yang menempatkan danau, mata air, dan juga sungai sebagai Ibu dan penyembuh peradaban.

“Semangat urip yang menguripi yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi menjadi itikad, tekad dan ikrar ideologis bersama. Kita tidak boleh gentar, lemah, dan putus asa, betapapun tantangan dan godaan hadir untuk membelokkan cita-cita ini, Kita harus tetap tegak demi kelangsungan harmoni alam, manusia, dan kebudayaan Bali,” jelasnya.

Koster menegaskan, penghormatan paling utama kepada Bung Karno adalah dengan meneladani dan melaksanakan ide, pemikiran, gagasan, dan cita[1]citanya untuk Indonesia Raya. “Saya berharap seluruh lapisan masyarakat Bali, terutama generasi muda mari dengan penuh suka cita memikul tanggungjawab ideologis ini,” pungkasnya seraya memekikkan kata Merdeka, Merdeka, Merdeka. alt

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *