PKB Sinyal Simbolik Bali Siap Dikunjungi Wisatawan

oleh -235 Dilihat
AA Gede Oka Wisnumurti

DENPASAR, POS BALI – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke 44 tahun 2022 yang digelar secara offline menjadi sinyal simbolik bahwa situasi dan kondisi Bali sangat aman, dan siap untuk dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Hal tersebut disampaikan tokoh masyarakat, AA Gede Oka Wisnumurti di Denpasar, Senin (13/6).

“Bali sudah aman, karena masyarakatnya sudah 70 persen telah mengikuti vaksinasi ketiga alias booster. Dan Bali paling siap untuk menerima tamu (wisatawan, red) dengan protokol kesehatan yang ketat, baik di objek-objek wisata maupun di hotel,” ujar Wisnumurti yang juga Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Propinsi Bali ini.

Wisnumurti menuturkan, dirinya juga sempat menanyakan ke masyarakat langsung dampak dari dibukanya pariwisata berikut pelonggarannya. “Ubud sekarang macet, dan masyarakat sangat senang kalau Ubud macet. Karena itu tanda pariwisata telah bangkit. Hal yang sama juga terjadi di Kuta serta daerah tujuan wisata lainnya,” ujarnya.

Pihaknya mengajak, semua pihak untuk mendukung kebangkitan kembali pariwisata Bali di masa peralihan ini. Mengingat, nafas kehidupan masyarakat Bali sangat tergantung dari sektor pariwisata. “Tapi kita harus tetap protokol kesehatan dengan bertanggung jawab,” pintanya.

Terkait kekhawatiran akan terjadi lonjakan pascapelonggaran pariwisata yang datang ke Bali, Wisnumurti mengajak untuk tidak berlebihan menyikapi hal tersebut. Terpenting, setiap ada kasus baru ditangani secara profesional, dilaksanakan tracing, dan tracking.

“Jadi jika ada kasus isolasi dengan baik. Karena saya pikir, rasa takut berlebihan juga akan menurunkan imunitas kita. Yang penting kita bisa menjaga diri masing-masing. Kata kuncinya disitu,” jelasnya.

Wisnumurti pun sepakat dengan yang diperjuangkan Gubernur Bali, Wayan Koster ke pemerintah pusat. Yakni pandemi menjadi endemi. Karena, pihaknya melihat situasi dan kondisi Bali dengan berbagai kesiapan sudah sangat siap menerima kunjungan wisatawan.

“Saya pikir itu adalah kebijakan yang baik. Tapi dengan catatan, jika sudah endemi bukan berarti kita mengabaikan protokol kesehatan. Mulai sekarang mari kita harus tetap menjalankan protokol kesehatan sebagai pola hidup,” tegasnya. alt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *