Konsep Pariwisata Hijau Bukan Hal Baru Bagi Bali

oleh -225 Dilihat
Desa Wisata Penglipuran

DENPASAR, POS BALI – Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menyatakan bahwa konsep pariwisata hijau bukanlah hal yang baru untuk Bali. Jauh-jauh hari Bali telah mencoba memanfaatkan energi hijau antara lain dengan pemanfaatan energi angin yang diubah menjadi listrik di Nusa Penida serta pemanfaatan energi surya (matahari).

“Pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor pendorong yang menyebabkan terjadinya perubahan tren pariwisata menuju green tourism. Di Bali sendiri sudah terdapat beberapa daerah yang berpotensi menjadi destinasi wisata hijau (green tourism). Walaupun secara langsung belum menggunakan energi terbarukan, namun desa-desa wisata di Bali telah mengusung konsep menyatu dengan alam,” kata Cok Ace di Denpasar, Selasa (5/7).

Cok Ace mencontohkan salah satu contoh desa wisata ramah lingkungan yang terkenal, Desa Penglipuran. “Walaupun rata-rata desa wisata di Bali telah menanamkan konsep menyatu dengan alam. Hal ini didukung juga dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Bali sebagai upaya memproteksi lingkungan, alam, masyarakat dan budaya Bali,” jelasnya.

Terkait mendukung perhelatan G20, Cok Ace mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Bali juga telah secara rutin melaksanakan sosialisasi penggunaan kendaraan listrik. Yang muaranya adalah untuk mengubah pola pikir masyarakat agar beralih dari penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik karena bagaimanapun kendaraan listrik ini lebih ramah lingkungan.

Lebih lanjut Cok Ace berharap pengembangan Pariwisata Bali menjadi lebih baik dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan yang terus meningkat serta penyebaran pengembangan pariwisata yang seimbang. Tidak hanya terfokus ke Bali Selatan,namun juga dapat dibagi secara merata ke sisi Bali lainnya.

Oleh sebab itu, jelas dia, terdapat beberapa proyek infrastruktur yang sedang digarap oleh Pemerintah Provinsi Bali antara lain pembuatan tol Denpasar-Gilimanuk, Pembangunan pelabuhan Sanur, Nusa Penida dan Nusa Lembongan, pembangunan Rumah Sakit Internasional, Pembangunan tower Turyapada, serta pembangunan Pusat Kebudayaan Bali (PKB).

“Saat ini Pariwisata Bali memang terlihat melebihi kapasitas (over demand) karena hanya terkonsentrasi di Bali Selatan namun jika dapat diratakan ini dapat menjadi potensi besar bagi pariwisata Bali untuk menarik lebih banyak wisatawan lagi, baik domestik maupun mancanegara yang mana Desa Wisatalah yang menjadi daya tariknya,” pungkasnya. alt

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *