Presidensi G20, ‘Angin Segar’ Kebangkitan Ekonomi Bali

oleh -286 Dilihat
Ida Bagus Kade Alit Susanta

DENPASAR, POS BALI – Sebagai daerah yang mengandalkan ekonomi dari sektor pariwisata, Bali sangat terdampak dengan mewabahnya SARS-CoV-2. Sejak ditemukan untuk kali pertama kasus Corona Disease 2019 (Covid-19) pada medio Maret 2020, pariwisata Bali mati suri.

Tak ada wisatawan yang datang berlibur karena pembatasan penerbangan internasional ke pulau yang berjuluk The Last Paradise in The World ini. Akibatnya, industri pariwisata Bali lumpuh. Pekerja pariwisata banyak yang dirumahkan, dan bahkan di-PHK tanpa pesangon.

Pekerja pariwisata yang terkena imbas terpaksa ‘banting setir’, beralih profesi untuk bertahan hidup. Baik menjadi pedagang, nelayan, hingga petani. Mereka terpaksa mengencangkan ‘ikat pinggang’ dan menyingsingkan ‘lengan baju’, sembari berdoa ke hadapan Sang Pencipta berharap pandemi ini segera sirna dari muka bumi ini.

Dua tahun telah berlalu, pelan tapi pasti, perekonomian Bali kini berangsur-angsur mulai membaik seiring dengan kebijakan pembukaan penerbangan internasional, dan juga pelonggaran persyaratan kedatangan wisatawan mancanegara ke Pulau Dewata ini. Diantaranya, Visa on Arrival, tanpa karantina, dan bebas PCR bagi mereka yang telah mengikuti vaksinasi secara tuntas.

‘Angin segar’ pun berhembus. Indonesia, khususnya Bali ditunjuk menjadi tuan rumah Presidensi G20 yang puncaknya bakal dilaksanakan pada tanggal 15-16 November 2022. Tentunya ini membawa kabar baik bagi kebangkitkan ekonomi Bali yang mengandalkan sektor pariwisata.

Delegasi pun mulai berdatangan untuk mengikuti berbagai agenda jelang puncak G20 tersebut. Teranyar, Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) 2022 yang merupakan side event dalam rangkaian G20 Finance Track: Finance and Central Bank Deputies (FCBD) dan 3rd Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Nusa Dua, Bali. Event secara hybrid ini berlangsung selama lima hari dari tanggal 11 – 15 Juli 2022.

FEKDI 2022 merupakan ajang etalase inovasi produk dan layanan serta sinergi kebijakan ekonomi dan keuangan digital yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan Kementerian Perekonomian dengan didukung oleh Kementerian-Lembaga dan industri, guna mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Sementara itu, Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat, kunjungan Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) terus meningkat seiring dengan rencana G20, dan juga pelonggaran persyaratan dalam upaya menarik minat para pelancong untuk berlibur ke Bali.

Pelonggaran itu diantaranya Visa on Arrival (VoA), tanpa karantina, bebas visa bagi 9 negara Asean dan VKSK untuk 43 negara, penghapusan penerapan untuk menunjukan bukti pre – flight result test Covid-19 saat saat kedatangan, serta penghapusan penerapan wajib menunjukkan bukti memiliki asuransi kesehatan.

Peningkatan PPLN ke Bali terlihat sejak kebijakan pembukaan pariwisata pada tanggal 3 Februari 2022. Penerbangan pertama internasional ke Bali yakni maskapai Garuda Indonesia tujuan Narita –Denpasar. Total PPLN ke Bali hingga 9 Juli 2022 tercatat sebanyak 493.445 orang.

G20 juga berdampak pada membaiknya perekonomian Bali. Dari catatan Bank Indonesia Perwakilan Bali, perekonomian Bali yang sempat minus hingga titik terdalam -12,36 % di triwulan III pada tahun 2020. Pelan tapi pasti, perekonomian Bali berangsur-angsur membaik.

Bank Indonesia juga memprakirakan, ekonomi Bali di tahun 2022 ini bakal tumbuh pada kisaran 3,80% – 4,60% (yoy). Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (y-on-y), ekonomi Bali triwulan I-2022 tercatat tumbuh sebesar 1,46 persen.

Oleh; Ida Bagus Kade Alit Susanta/Wartawan SK POS BALI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *