Pertahankan Disertasi ‘Disharmoni Sinergitas Pengelolaan DTW Tirta Empul’, I Ketut Jaman Raih Predikat Camlaude

oleh -217 Dilihat
Ketut Jaman (kiri) saat menerima sertifikat kelulusan doktor. 

DENPASAR, POS BALI – Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Pemerintah Provinsi Bali, I Ketut Jaman, SS., M.Si., berhasil mempertahankan disertasi berjudul ‘Disharmoni Sinergitas Desa Adat, Pemerintah Daerah Dan Usaha Jasa Perjalanan Wisata Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Tirta Empul Di Desa Adat Manukaya Let, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar’, dan dinyatakan lulus dengan predikat camlaude.

Hal tersebut terungkap dalam Sidang Akademik Ujian Terbuka Promosi Doktor Universitas Hindu Indonesia (Unhi), di Aula Lantai III, Gedung Rektorat Unhi, Jalan Sangalangit, Tembau, Penatih, Denpasar Timur, Kamis (14/7). Dengan lulusnya ini, maka nama lengkapnya dosen STP ini menjadi Dr I Ketut Jaman, SS., M.Si.

Sekretaris Ujian Terbuka Promosi Doktor Unhi, Prof Dr I Putu Gelgel, SH., M.Hum., menyampaikan, kemampuan promovendus dalam menarik kesimpulan sangat bermakna. Selanjutnya mampu mempertahankan disertasi dengan integritas ilmiah, dan kegunaan serta sumbangan yang berharga dari disertasi yang berharga untuk ilmu pengetahuan.

“Memperhatikan penilaian dalam ujian tersebut, dan juga memperhatikan wewang pada program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia, memutuskan bahwa disertasi saudara promovendus diterima. Dan dengan demikian, saudara telah menyelesaikan pendidikan doktor dalam Prodi Ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi serta dinyatakan lulus dengan predikat camlude,” ungkap Prof Gelgel.

Promotor yang juga Kaprodi Fakultas Agama, Seni, dan Budaya, Prof Dr I Ketut Suda, M.Si., Ketut Jaman menjadi doktor yang ke 111 dari Fakultas Agama, Seni, dan Budaya. Menurutnya, predikat camlaude sangat tepat. Karena dari cara mempertahankan hasil karyanya, menanggapi pertanyaan para penguji, baik secara perspektif teoritik, dan penataan lapangan, Prof Suda menilai sangat layak diberikan predikat camlude.

“Apalagi tanpa teks. Bukan membaca, bukan menghafal. Jadi apa yang disampaikan itu spontanitas. Itu artinya, ketika seorang akademisi mampu bercerita seperti itu, maka kita yakini itu atas dasar pemahaman. Bukan hafalan, bukan cara berpikir tekstualitas. Ini perpaduan antara akademisi dengan praktisi, jadi klop sebenarnya pak Jaman ini,” pujinya.

Ditemui seusai ujian terbuka, Ketut Jaman membeberkan terkait penelitian DTW Tirta Empul. Menurutnya, DTW Tirta Empul ini adalah asset yang luar biasa. Sebagai tempat peribadatan Agama Hindu, maka perlu dijaga kelestariannya, dan diperbaiki secara terus menerus.

Namun, lanjut dia, dalam upaya pelestarian itu perlu modal-modal ekonomi yang cukup besar. Nah pariwisata, kata dia, menjadi salah satu sumber ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Desa Adat Manukaya Let, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Selain itu, pariwisata juga sumber ekonomi untuk perbaikan pura ke depan.

“Di Pura Tirta Empul ini ada cagar budaya yang perlu dilestarikan. Nah karena itu membutuhkan manajemen yang kuat. Namanya manajemen cagar budaya. Di satu sisi, agar budaya dan tempat suci ini bisa dilestarikan, di sisi lain harus dikunjungi wisatawan. Ini dua aspek yang perlu disambungkan,” jelasnya.

Dikatakan, saat ini manajemen dalam pengelolaan tersebut belum disatukan, sehingga mengambil judul disertasi disharmonis sinergitas. Namun, tujuannya bukan mencari kelemahan ataupun kejelekan. Akan tetapi, menyampaikan usulan-usulan, imbauan, maupun rekomendasi untuk perbaikan tata kelola Tirta Empul ke depan, khususnya pihak-pihak yang mendapatkan porsi tidak sesuai dengan harapan.

 

Disharmoni Sinergitas Pengelolaan Daya Tarik Wisata Tirta Empul

Sebelumnya, dalam ujian terbuka tersebut, Ketut Jaman menyampaikan disertasi berjudul ‘Disharmoni Sinergitas Desa Adat, Pemerintah Daerah Dan Usaha Jasa Perjalanan Wisata Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Tirta Empul Di Desa Adat Manukaya Let, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar’.

Dijelaskan, sebagai Daya Tarik Wisata (DTW), kawasan Pura Tirta Empul belum dikelola dengan baik, terbukti dengan adanya kesenjangan antara harapan ideal dengan fakta di lapangan. Seperti adanya kasus operasi tangkap tangan pungutan liar, ketimpangan pembagian hasil retribusi, dan keluhan usaha jasa perjalanan wisata (UJPW) terkait kebersihan dan pelayanan.

Masalah yang dikaji adalah faktor penyebab disharmoni sinergitas desa adat, pemda dan UJPW, bentuk disharmoni sinergitas desa adat, pemda dan UJPW, dan implikasi disharmoni sinergitas desa adat, pemda dan UJPW terhadap kehidupan bidang ekonomi, sosial, budaya, teologis, dan ekologis.

Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakharmonisan sinergitas yang terjadi disebabkan berbagai faktor. Mulai dari faktor filosofis dan ideologis sampai dengan faktor teknologis dan ekologis serta tidak terlepas dari faktor politis dan ekonomi yang memicu ketidakadilan dalam pembagian kue pariwisata.

Dijelaskan, bentuk disharmoni sinergitas dalam sistem pengelolaan DTW baik dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan kerja maupun pengawasan yang melibatkan ketiga stakeholder tersebut memiliki harapan ideal dalam kapasitas industri jasa pelayanan wisata.

Disharmoni sinergitas tiga stakeholder dalam pengelolaan DTW Tirta Empul tersebut, berimplikasi pada kehidupan bidang ekonomi yaitu ketimpangan pendapatan, implikasi sosial yang berpotensi menimbulkan konflik sosial, implikasi budaya dengan terjadinya komodifikasi budaya, dan implikasi teologis ditandai adanya degradasi kesucian pura, serta implikasi bidang ekologis yang menimbulkan penurunan kualitas lingkungan.

Disebutkan, teori yang digunakan adalah Teori Dekonstruksi dari Derrida, Teori Manajemen dari George Terry, dan Teori Resepsi dari Robert Jauss dengan menggunakan paradigma emansipatoris kritis. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen.

Tujuan umum penelitian ini untuk memahami dan mendekonstruksi ideologi dan kebenaran yang tersembunyi di balik sinergitas Desa Adat Manukaya Let dengan Pemerintah Daerah dan Usaha Jasa Perjalanan Wisata.

Sementara untuk tujuan khusus, penelitian ini untuk menganalisis penyebab disharmoni sinergitas Desa Adat Manukaya Let, Pemda Gianyar dan Usaha Jasa Perjalanan Wisata dalam pengelolaan DTW Tirta Empul; kemudian menganalisis bentuk disharmoni sinergitas, menganalisis implikasi disharmoni, dan Usaha Jasa Perjalanan Wisata dalam pengelolaan DTW Tirta Empul terhadap kehidupan bidang ekonomi, sosial, budaya, teologis, dan ekologis.

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan keilmuan dalam bidang pariwisata budaya dan menjadi salah satu sumber pengetahuan di bidang lain seperti: Perluasan ideologi kapitalisme global yang mengakibatkan terjadinya hegemoni terhadap desa adat dalam pengelolaan daya tarik wisata; Implementasi manajemen usaha pariwisata dalam pengelolaan daya tarik wisata berupa situs dan peninggalan purbakala; Implikasi sinergitas desa adat dengan pemerintah daerah dan usaha jasa perjalan wisata dalam pembangunan pariwisata budaya.

Selain itu, secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan kepada masyarakat pelaku budaya Bali, khususnya desa adat, dalam mengambil kebijakan dalam pengembagan pariwisata budaya di tengah desakan budaya global seperti ideologi pasar.

Dapat memotivasi desa adat yang lain di Bali untuk mengintensifkan modal budayanya sebagai dasar pengembangan pariwisata tanpa kehilangan aspek kebudayaan yang bersifat produktif yakni budaya sebagai referensi nilai dalam kehidupan sehari-hari sehingga terjamin tetap terjaganya identitas kearifan lokal.

Dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada pemerintah, khususnya perangkat daerah yang terkait dengan kepariwisataan, kebudayaan, dan 4 pemajuan desa adat, baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi agar dalam mengambil kebijakan tidak terperangkap pada ideologi kapitalisme (ideologi pasar).

Dapat menggugah kesadaran para pelaku industri pariwisata, khususnya usaha jasa perjalanan wisata, untuk meningkatkan kontribusinya kepada desa adat di Bali sebagai wujud implementasi pengembangan pariwisata budaya berbasis masyarakat dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan, di mana pelaku pariwisata tidak memarginalkan desa adat sehingga tercipta hubungan timbal balik yang selaras antara pariwisata dengan kebudayaan. alt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *