Ujian Terbuka Promosi Doktor, Ketut Jaman Ulas DTW Pura Tirta Empul

oleh -238 Dilihat
I Ketut Jaman

DENPASAR, POS BALI – Sebagai Daya Tarik Wisata (DTW), kawasan Pura Tirta Empul belum dikelola dengan baik. Hal itu terbukti dengan adanya kesenjangan antara harapan ideal dengan fakta di lapangan. Seperti adanya kasus operasi tangkap tangan pungutan liar, ketimpangan pembagian hasil retribusi, dan keluhan usaha jasa perjalanan wisata (UJPW) terkait kebersihan dan pelayanan.

Hal tersebut dibeberkan Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Bidang Pariwisata Pemerintah Provinsi Bali, I Ketut Jaman, SS., MSi., saat mengikuti Sidang Akademik Ujian Terbuka Promosi Doktor Universitas Hindu Indonesia (Unhi), di Aula Lantai III, Gedung Rektorat Unhi, Jalan Sangalangit, Tembau, Penatih, Denpasar Timur, Kamis (14/7).

Dalam sidang tersebut, Ketut Jaman menyampaikan disertasi berjudul ‘Disharmoni Sinergitas Desa Adat, Pemerintah Daerah Dan Usaha Jasa Perjalanan Wisata Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Tirta Empul Di Desa Adat Manukaya Let, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar’.

“Masalah yang dikaji adalah faktor penyebab disharmoni sinergitas desa adat, pemda dan UJPW, bentuk disharmoni sinergitas desa adat, pemda dan UJPW, dan implikasi disharmoni sinergitas desa adat, pemda dan UJPW terhadap kehidupan bidang ekonomi, sosial, budaya, teologis, dan ekologis,” ungkapnya.

Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakharmonisan sinergitas yang terjadi disebabkan berbagai faktor. Mulai dari faktor filosofis dan ideologis sampai dengan faktor teknologis dan ekologis serta tidak terlepas dari faktor politis dan ekonomi yang memicu ketidakadilan dalam pembagian kue pariwisata.

Dijelaskan, bentuk disharmoni sinergitas dalam sistem pengelolaan DTW baik dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan kerja maupun pengawasan yang melibatkan ketiga stakeholder tersebut memiliki harapan ideal dalam kapasitas industri jasa pelayanan wisata.

“Disharmoni sinergitas tiga stakeholder dalam pengelolaan DTW Tirta Empul tersebut, berimplikasi pada kehidupan bidang ekonomi yaitu ketimpangan pendapatan, implikasi sosial yang berpotensi menimbulkan konflik sosial, implikasi budaya dengan terjadinya komodifikasi budaya, dan implikasi teologis ditandai adanya degradasi kesucian pura, serta implikasi bidang ekologis yang menimbulkan penurunan kualitas lingkungan,” jelasnya.

Disebutkan, teori yang digunakan adalah Teori Dekonstruksi dari Derrida, Teori Manajemen dari George Terry, dan Teori Resepsi dari Robert Jauss dengan menggunakan paradigma emansipatoris kritis. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen.

“Tujuan umum penelitian ini untuk memahami dan mendekonstruksi ideologi dan kebenaran yang tersembunyi di balik sinergitas Desa Adat Manukaya Let dengan Pemerintah Daerah dan Usaha Jasa Perjalanan Wisata,” ungkapnya.

Sementara untuk tujuan khusus, lanjut dia, penelitian ini untuk menganalisis penyebab disharmoni sinergitas Desa Adat Manukaya Let, Pemda Gianyar dan Usaha Jasa Perjalanan Wisata dalam pengelolaan DTW Tirta Empul; kemudian menganalisis bentuk disharmoni sinergitas, menganalisis implikasi disharmoni, dan Usaha Jasa Perjalanan Wisata dalam pengelolaan DTW Tirta Empul terhadap kehidupan bidang ekonomi, sosial, budaya, teologis, dan ekologis.

“Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan keilmuan dalam bidang pariwisata budaya dan menjadi salah satu sumber pengetahuan di bidang lain seperti: Perluasan ideologi kapitalisme global yang mengakibatkan terjadinya hegemoni terhadap desa adat dalam pengelolaan daya tarik wisata; Implementasi manajemen usaha pariwisata dalam pengelolaan daya tarik wisata berupa situs dan peninggalan purbakala; Implikasi sinergitas desa adat dengan pemerintah daerah dan usaha jasa perjalan wisata dalam pembangunan pariwisata budaya,” harapnya.

Selain itu, secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan kepada masyarakat pelaku budaya Bali, khususnya desa adat, dalam mengambil kebijakan dalam pengembagan pariwisata budaya di tengah desakan budaya global seperti ideologi pasar.

Dapat memotivasi desa adat yang lain di Bali untuk mengintensifkan modal budayanya sebagai dasar pengembangan pariwisata tanpa kehilangan aspek kebudayaan yang bersifat produktif yakni budaya sebagai referensi nilai dalam kehidupan sehari-hari sehingga terjamin tetap terjaganya identitas kearifan lokal.

Dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada pemerintah, khususnya perangkat daerah yang terkait dengan kepariwisataan, kebudayaan, dan 4 pemajuan desa adat, baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi agar dalam mengambil kebijakan tidak terperangkap pada ideologi kapitalisme (ideologi pasar).

Dapat menggugah kesadaran para pelaku industri pariwisata, khususnya usaha jasa perjalanan wisata, untuk meningkatkan kontribusinya kepada desa adat di Bali sebagai wujud implementasi pengembangan pariwisata budaya berbasis masyarakat dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan, di mana pelaku pariwisata tidak memarginalkan desa adat sehingga tercipta hubungan timbal balik yang selaras antara pariwisata dengan kebudayaan.

 

Sekilas Tentang Pura Tirta Empul

Secara geografis Pura Tirta Empul terletak di wilayah Desa Adat Manukaya Anyar. Walaupun pura itu sejatinya dimiliki Desa Adat Manukaya Let, Pura Tirta Empul merupakan salah satu peninggalan kerajaan di Bali.

Berdiri di atas tanah seluas 6.000 m2 tempatnya persis di sebelah timur Istana Kepresidenan RI di Tampaksiring yang dibangun Presiden Soekarno. Di samping sebagai tempat persembahyangan umat Hindu, pura ini merupakan salah satu peninggalan sejarah yaitu Cagar Budaya Dunia di daerah Kabupaten Gianyar, yang setiap hari dikunjungi ratusan wisatawan mancanegara maupun domestik.

Nama Pura Tirta Empul termuat dalam sebuah batu bertulis atau yang disebut prasasti. Nama tirta empul mengandung makna aliran air jernih yang digunakan sebagai air suci untuk berbagai upacara keagamaan. Secara etimologi, tirta empul memiliki arti air suci yang menyembur keluar dari tanah.

Pura Tirta Empul terkenal karena terdapat sumber air yang hingga kini dijadikan air suci untuk melukat oleh masyarakat dari seluruh pelosok Bali, tak jarang wisatawan yang berkunjung pun tertarik untuk ikut melukat. Aktivitas budaya, benda cagar budaya, arsitektur pura dan keasrian alam di sekitar pura menjadi daya tarik utama bagi wisatawan untuk berkunjung ke pura yang terletak di pinggir Jalan Raya Tampaksiring–Kintamani tersebut.

Kunjungan wisatawan ke pura tempat berstananya Dewa Indra itu membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat, baik sebagai kemit (petugas jaga), pedagang, juru parkir, juru foto, dan lain sebagainya. alt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *