Ekonomi Hijau Mewujudkan Kesejahteraan dan Kelestarian

oleh -224 Dilihat
Peserta DKT tampak berfoto bersama. 

DENPASAR, POS BALI – Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Pusat Riset Kependudukan-Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRK–BRIN) melakukan kegiatan penelitian dengan tema Kajian Kualitatif Pembangunan Ekonomi Hijau dan Kondisi Sosial Demografi Penduduk Indonesia.

Untuk di Bali, BPS – PRK BRIN menggelar Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) untuk mendapatkan masukan terhadap penelitian yang mengangkat tema “Pembangunan Ekonomi Hijau dan Kondisi Sosial Demografi: Mewujudkan Kesejahteraan Penduduk dan Kelestarian Lingkungan”.

DKT itu berlangsung di Ruang Rapat Lantai 3, Kantor Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, Jalan Raya Puputan (Renon) No 1, Denpasar, Bali, Jumat (15/7). DKT ini menghadirkan akademisi, Dinas Pertanian Provinsi Bali, Bapenda, Brida Bali, serta narasumber lainnya.

Kepala BPS Provinsi Bali, Hanif Yahya menyampaikan, penduduk Bali cukup adaptif dalam menyikapi pandemi Covid-19. Yakni peralihan pekerja pariwisata ke pertanian. “Ini membangkitkan ekonomi hijau,” ujarnya.

Pihaknya berharap, DKT ini mendapatkan masukan dalam penelitian ini, sehingga hasilnya lebih komprehensif.

Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora – BRIN, Prof Dr Ahmad Najib Burhani mengungkapkan, dalam mewujudkan ekonomi hijau, memerlukan sinergi banyak pihak.

“Pertanian organik di Bali, khususnya di komunitas masyarakat sudah terjadi praktek ekonomi hijau. Contohnya di Desa Asah Gobleg mengembangkan ekonomi hijau pertanian organik. Apalagi green ekonomi ini menarik, karena sudah ada peta jalan Ekonomi Kerthi Bali,” ungkapnya.

Penelitian ini diharapkan menjadi konsep baru, dalam memberikan masukan kepada pemerintah terkait konsep ekonomi hijau di Indonesia. Karena penelitian di Bali ini bakal digabungkan dengan penelitian yang dilakukan di 34 provinsi yang ada di seluruh Indonesia.

Untuk di Bali, terdapat kekhasan. Karena konsep ekonomi hijau dipadukan dengan budaya, sehingga ini akan menjadi keunggulan Indonesia, jika konsep ini disampaikan dalam presidensi G20. Apalagi pendekatan ekonomi hijau ini berbeda dengan negara-negara maju. Indonesia lebih variatif. alt

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *