Digitalisasi UMKM, JNE Bantu ‘Go Online’

oleh -232 Dilihat
Webinar JNE Kota Denpasar.

DENPASAR, POS BALI – Sebanyak 30 juta UMKM yang ada di Indonesia ditargetkan mampu beralih ke digitalisasi pada tahun 2024. Target ini bukan angka yang kecil, sehingga mendorong para pemangku kepentingan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendukung aktivitas UMKM di seluruh Indonesia.

Hal itu terungkap dalam Webinar JNE Ngajak Online, Goll..Aborasi Bisnis Online Kota Denpasar, Rabu (20/7). Webinar berbagi wawasan menarik seputar membangun bisnis di era digital ini diikuti lebih dari 150 UMKM yang ada di Bali.

Branch Manager JNE Denpasar, Ni Nyoman Alit Septiniwati menyampaikan, Kota Denpasar merupakan kota ke-29 dari gelaran webinar JNE Ngajak Online 2022 – Goll…Aborasi Bisnis Online yang pada tahun 2021 telah dilakukan di 60 kota di seluruh Indonesia. “Setelah Kota Denpasar, gelaran roadshow ini hadir di Kota Purwakarta,” ungkapnya.

Menurutnya, JNE tidak hanya membantu UMKM pada kebutuhan distribusi, namun juga untuk go online, sehingga produk yang dihasilkan UMKM Bali bisa berkembang dan terus maju.

“JNE sebagai perusahaan di bidang logistik dan jasa pengiriman terus berupaya untuk mendukung aktivitas UMKM di Denpasar melalui berbagai layanan. Seperti adanya gratis ongkos kirim, pelatihan yang rutin digelar oleh JNE seperti Ngajak Online, hingga potongan harga ongkos kirim di saat-saat tertentu,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, JNE juga mengadakan layanan pergudangan atau e-fulfillment bagi konsumen yang membutuhkan ruang menyimpan produk hingga sampai di tangan pelanggan. Hal ini menjadi dukungan nyata JNE untuk mendorong produktivitas UMKM setempat.

Dalam webinar ini, narasumber yakni Creative Director Voondurend Love Company, Vonzealous mengatakan, meski sempat terdampak pandemi, kedua UMKM yang bergerak di bidang fesyen ini membuktikan bahwa media sosial berhasil memainkan peranan esensial agar tetap survive di era post-recovery.

Vonzealous menilai, pandemi menjadi titik balik bagi bisnisnya untuk aktif di kanal digital. “67 persen penjualan kami dari online, di awal pandemi kami sangat liar karena seluruh sektor bisnis sedang memasuki era digital dan IoT (Internet of Things). Dengan aktif berbisnis online, pendapatan kami di tahun 2021 meningkat hingga 55 persen,” tutur Vonzealous.

Vonzealous juga menekankan pentingnya memahami sudut pandang konsumen untuk mengembangkan produk. “Kami rutin melakukan penilaian terhadap produk kita dari kacamata konsumen menggunakan formulir online, hal ini penting untuk terus meningkatkan kualitas yang menjadi core value bisnis kami,” ujarnya.

Sementara itu, narasumber dari Creative Director Manikan, Bagus Galih Hastosa menuturkan, hingga saat ini aktif memproduksi konten di media sosial. “Melalui media sosial, kita ingin bicara mengenai kreativitas, bagaimana konsumen menyukai produk kita yang sesuai dengan tren fesyen saat ini. Untuk itu, kita selalu membuat konten yang untuk mengenalkan batik atau cara penggunaan kain,” pungkas Bagus.

Menyikapi ketatnya persaingan UMKM di era digital ini, kedua narasumber yang hadir sepakat bahwa diferensiasi produk penting agar tetap digalakkan. “Dari segi desain dan style, produk kami berbeda dengan produk kompetitor. Selain itu produk kami khas akan core value seperti cinta, seni, kehormatan, dan kualitas. Ini yang selalu kami pegang,” pungkas Vonzealous. alt

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *