Bali Berlayar di Tengah Badai Covid-19

oleh -521 Dilihat
Putu Astawa (tengah), IDPG Rai Anom (kiri), dan I Putu Wira Utama (kanan)

DENPASARPOS BALI – Raut wajah Ahli Utama Bappeda Provinsi Bali, I Putu Astawa tampak berseri-seri. Pria berkumis tipis ini tak henti-hentinya melempar senyum bahagia. Karena buku Bali Berlayar di Tengah Badai Covid-19, Strategic Foresight untuk Masa Depan yang ditulis bersama dua rekannya yakni IDPG Rai Anom dan I Putu Wira Utama dibedah Pusbindiklatren, Bappenas, Senin (15/8).

Para penulis ini tak menyangka, buku terkait perjuangan pemerintah pusat dan masyarakat Bali menghadapi badai Covid-19 tidaklah mudah, direspon positif tak hanya dari Pemerintah Daerah, akan tetapi juga Pemerintah Pusat. Dalam bedah buku secara virtual melalui aplikasi Zoom serta live streaming di kanal YouTube, diikuti kurang lebih 300 orang.

Bedah buku ini dimoderatori Perencana Ahli Madya Pusbindiklatren, Bappenas Wignyo Adiyoso, dan menghadirkan dua narasumber yakni Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini serta Dosen Perencanaan Kota Institut Teknologi Bandung, Prof Ridwan Sutriadi.

Tak hanya pujian, kritik, saran, masukan pun terlontar dari narasumber dan juga undangan yang hadir secara virtual itu. Salah satunya pujian bahwa kemampuan para penulis itu, tiga tingkat lebih tinggi di atas orang yang hanya sekadar ngomong.

Wignyo Adiyoso menyampaikan, pandemi Covid-19 menjadi pemicu terpuruknya perekonomian, dan Bali menjadi salah satu yang menderita. Mengingat perekonomian Bali ditunjang dari sektor pariwisata. “Rata-rata ekonomi Bali di atas nasional, akan tetapi adanya pandemi perekonomian Bali jatuh bahkan minus,” tuturnya.

Narasumber Didik J Rachbini berharap, buku ini tidak terhenti sampai disini. “Ini buku awal, sehingga diharapkan bisa menulis lagi, dilanjutkan, dan harus ada skenario turunan. Tapi menulis itu tidak sekadar ngomong, tapi penulis itu tiga tingkat lebih tinggi,” ujarnya.

Narasumber Ridwan Sutriadi mengatakan, buku yang ditulis ini merupakan inovasi baru untuk merespon pandemi. Tak hanya itu, juga terdapat framework, dan berusaha merespon kebijakan nasional. “Saya terperanjat. Biasanya buku yang ditulis itu dijual mahal, akan tetapi ini Pdf dibagikan secara gratis,” ungkapnya.

Sementara itu, Astawa menuturkan, buku ini merupakan karya kedua yang dibuat bersama rekan-rekannya. Untuk buku pertama berjudul ‘3T, Trust Trail Travel’. “Buku Bali Berlayar di Tengah Badai Covid-19 digarap mulai bulan November 2021, dan ditulis pada bulan Desember. Selesai bulan Juni. Yang paling lama menunggu ISBN, hampir lima bulan,” tuturnya.

Kendati belum sepenuhnya sempurna, pihaknya berharap buku ini menjadi acuan agar tidak terjerumus ke ‘lubang’ yang sama. Mengingat Bali sebagai destinasi pariwisata dunia, situasi dan kondisi perekonomian terpuruk. Bahkan sempat minus 9,5 persen.

“Penulisan buku ini dimaksudkan untuk menyusun strategic foresight bagi Bali untuk mencari jalan keluar dari kondisi VUCA, yakni Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity,” tandasnya mantan Kadis Pariwisata Bali. alt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *