Koster: Baju Loreng Membuat Suasana Semangat

oleh -255 Dilihat
Suasana penyambutan Gubernur Koster dalam Musda X PD XIV KB FKPPI Provinsi Bali bertajuk 'FKPPI Membangun Negeri', di Hotel Inna Bali, di Jalan Veteran, Denpasar, Sabtu (20/8) pagi. 

Musda X FKPPI Bali, ‘FKPPI Membangun Negeri’

DENPASAR, POS BALI – Ratusan pemuda/pemudi berbadan tegap dan berbaju loreng tampak memadati Hotel Inna Bali, di Jalan Veteran, Denpasar, Sabtu (20/8) pagi.

Rupanya para pemuda dari Keluarga Besar (KB) Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI – Polri (FKPPI) seluruh Bali ini tengah menunggu kedatangan Gubernur Bali Wayan Koster.

Orang nomor satu di Provinsi Bali ini dijadwalkan membuka Musyawarah Daerah (Musda) X Pengurus Daerah (PD) XIV KB FKPPI Provinsi Bali bertajuk ‘FKPPI Membangun Negeri’.

Pukul 10.15 WITA, Wayan Koster tiba dalam Musda X ini. “Siapa kita! FKPPI. FKPPI! Jaya, jaya, jaya,” yel-yel ini terdengar jelas dari belasan anggota forum ini yang berbaris rapi menyambut kedatangan orang nomor satu di Provinsi Bali ini.

Lagu Kebangsaan Indonesia Raya pun berkumandang dalam pembukaan Musda X, dilanjutkan dengan lagu Mengheningkan Cipta untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur membela nusa dan bangsa.

Tak berhenti sampai disitu, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan teks Undang-Undang Dasar 1945, serta pembacaan Tekad Keluarga Besar FKPPI yang diikuti seluruh anggota FKPPI, serta himne lagu FKPPI. Musda ini dibuka Gubernur Bali dengan pemukulan gong.

Ketua Panitia Ustav Sukwan menyampaikan, Musda PD XIV KB FKPPI Provinsi Bali ini memiliki dua agenda. Yakni pergantian pengurus dan membuat program-program baru. “Sebelumnya juga telah diadakan pra Musda untuk konsolidasi,” ungkapnya.

Ketua Plt PD XIV KB FKPPI Provinsi Bali Evert Moniaga mengucap syukur kehadapan Sang Pencipta. Karena cita cita Musda akhirnya terwujud. Mengingat sejak 2,5 tahun terakhir pandemi juga berpengaruh.

“Musda ini merupakan permusyawaratan tertinggi di tingkat daerah. Kami juga sudah konsultasikan dengan para senior. Musda ini terwujud juga tidak terlepas dari perjuangan seluruh anggota FKPPI,” imbuhnya.

Gubernur Koster tampak memukul gong membuka Musyawarah Daerah (Musda) X Pengurus Daerah (PD) XIV KB FKPPI Provinsi Bali bertajuk ‘FKPPI Membangun Negeri’.

Ketua Umum KB FKPPI Pontjo Sutowo dalam arahannya menyampaikan, membangun negeri sesuai dengan tema yang diangkat dalam Musda ini, harus dilakukan secara konsolidasi emosional, wawasan, organisasi, hingga konsolidasi kaderisasi.

“Bangsa yang berdiri tegak bukan hanya karena kekuatan ekonomi tapi semangat bela negara. Untuk itu, anggota FKPPI harus mengajak masyarakat di seluruh pelosok untuk bela negara,” ajaknya.

Pontjo juga berpesan, siapapun pengurus FKPPI Bali harus mencari dan membuat program yang kuat. Dan Bali sendiri memiliki keistimewaan dengan adanya kearifan lokal. “Kekuatan bangsa bukan pada benteng, tapi pada budaya seperti di Bali ini ada pecelang,” tuturnya.

Pontjo Sutowo juga mengungkapkan bahwa di era globalisasi ini, ancaman bagi negara tidak hanya militer, akan tetapi non militer. Untuk itu, dia berharap anggota FKPPI juga mengisi kekosongan itu.

Untuk di Bali sendiri, lanjut dia, memiliki kemampuan untuk menangkal ancaman non militer. Yakni melalui kearifan lokalnya. “Organisasi bela masyarakat berdasarkan kultur Bali kan pecalang. Ya itu kekuatan luar biasa. Di setiap daerah juga ada. Lokal genius kita ini harus dihidupkan,” bebernya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Bali menyampaikan bahwa baru kali ini dia menghadiri undangan dari ormas. Karena, lanjut dia, keterbatasan waktu dan juga persiapan G20.

Koster juga menuturkan, begitu membaca undangan dari FKPPI ini dirinya langsung tersentuh. Mengingat sewaktu dia muda, banyak bergaul dengan anggota FKPPI ini. “Bajunya loreng membuat suasana bergairah dan penuh semangat,” imbuhnya.

Koster juga menegaskan kesiapan untuk mendukung dan memfasilitasi FKPPI dalam membangun Bali. Koster berharap, Musda ini berjalan lancar dan sukses.

“Saya harap pemilihan pengurus berlangsung dengan baik, kondusif, dan mengedepankan musyawarah mufakat. Jadi pengurus itu adalah pengabdian, bukan sekadar saja. Tapi betul-betul bekerja secara nyata dan menggerakkan organisasi, memberi manfaat tidak saja hanya untuk kepentingan internal organisasi akan tetapi juga untuk kemasyarakatannya,” pungkas Koster. alt

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *