,

Summer Fights, Fighter Perempuan Asal Swiss Bertarung di Bali

oleh -252 Dilihat
Anisa Mesuiko dari Rumble Fight Team dan Nadja dari Dee Muay Thai

MANGUPURA, POS BALI – Sebanyak 18 petarung dari Batam, Jakarta, Malang, Surabaya, Bali, dan Swiss mengikuti Summer Fight Seri 3 di Gor Segara Perancak, Tibubeneng, Canggu, Bali pada tanggal 24 September 2022.

Adapun 18 fighter itu, diantaranya 12 Petarung Pro yang berlaga pada ajang kali ini yakni Fahri (Bali MMA), Cep Holik (Syllabus MMA), Marton (Rumble Fight Team), Rahman (Beat Up Camp), Jamus (Rumble Fight Team), Raymond (Team Zando), Arif (Reborn TC), Maruli (Dee Muay Thai), Yohanes (Beat Up Camp), Jemito (Dee Muay Thai), Yodenius (Vitka Muay Thai) dan Abilio (Lions MMA).

Sementara itu, 6 Petarung Kelas Semi Pro yakni Mesuiko (Rumble Fight Team), Nadja (Dee Muay Thai), Baharudin (O Muay Thai), Badi (Team Zando), Fuad (Team Zando) dan Kevin (Lions MMA). Mereka tidak hanya berasal dari Bali, melainkan dari Surabaya, Jakarta, Batam, Malang, dan satu peserta berasal dari luar negeri, yakni Swiss.

Dalam Summer Fights kali ini, juga menampilkan dua petarung perempuan, yakni Anisa Mesuiko dari Rumble Fight Team dan Nadja dari Dee Muay Thai.

Tampilnya petarung wanita diantara petarung laki – laki ini membawa daya tarik tersendiri. Bukti bahwa olahraga beladiri ini bisa dinikmati dan dilakukan oleh siapa saja, tidak hanya kaum lelaki. Anisa Mesuiko misalnya, wanita berusia 25 tahun ini telah menjalani program training Muay Thai selama 2 tahun belakangan. Ia mengakui menemukan kenikmatan olahraga beladiri ini, yang menuntut komitmen kuat dalam menjalani setiap training Muay Thai.

Menurutnya wanita haruslah kuat, setidaknya mampu menjaga diri. Muay Thai sendiri selain bermanfaat dalam meningkatkan pertahanan diri dari tindak kejahatan, dapat juga menunjang kesehatan tubuh, menjaga stamina, kebugaran tubuh secara menyeluruh dan mampu meningkatkan kekuatan, kecepatan serta daya tahan.

Anisa Mesuiko atau yang kerap dipanggil Meme ini masuk dalam kelas Feather Weight 57,1 kg. Ia bertekad untuk melaju dalam ajang Summer Fight tahun ini dengan persiapan yang maksimal. Begitu pula petarung wanita lainnya, yakni Nadja Zeller asal Swiss yang kini berusia 32 tahun. Nadja telah menggeluti dunia olahraga beladiri keras ini sejak tiga tahun lalu. Nadja pun masuk dalam kelas feather weight (57,1 Kg).

Sehari sebelum penyelenggaraan pertarungan, yakni 23 September 2022 Pukul 8.30 wita diadakan penimbangan berat badan untuk menentukan kelas para petarung dalam berlaga di Gor Segara Perancak, Tibubeneng, Canggu, Bali.

Prosesi timbang badan (weight in) ini terbuka untuk umum, di mana para petarung akan bertatap muka dengan lawan untuk pertama kalinya. Proses penimbangan berat badan para petarung ini akan disaksikan langsung  oleh Wasit Juri, Yan Yan Iman Setiana dan Dido Agusmal dari MPI (Muay Thai Professional Indonesia).

Selain menimbang berat badan, mereka juga akan mengikuti tes kesehatan oleh tim dokter sebagai pihak yang mengeluarkan pernyataan resmi atas kesehatan peserta dan kesiapan mereka mengikuti pertandingan.

“Event kali ini merupakan hal yang spesial karena event ini menentukan petarung-petarung mana saja yang akan memperebutkan Sabuk Kejuaraan Nasional Muay Thai Professional Indonesia pada bulan Desember mendatang,” Promotor, Marcos Manurung, Jumat (23/9).

Marcos menyampaikan aspirasinya terhadap pihak pemerintah untuk dapat mempermudah segala proses perizinan dalam penyelenggaraan acara ini ke depannya. “Summer Fights diharapkan dapat menjadi sport tourism yang memikat wisatawan mancanegara untuk datang ke Bali dan menonton pertunjukan ini,” imbuhnya.

Ia pun menambahkan bahwa Summer Fights bercita-cita untuk menghadirkan pertarungan yang bukan hanya  sekedar pertarungan, melainkan menerapkan tradisi olahraga beladiri secara turun temurun, menjunjung rasa kehormatan dan sportivitas. Summer Fights berkomitmen untuk menjunjung tinggi dan mempromosikan semua nilai-nilai ini hingga dapat memberikan contoh yang positif dan konstruktif di masyarakat.

Ajang ini diharapkan mampu menjadi representasi Indonesia di dunia Internasional yang saat ini belum ada. Para petarung tentu membutuhkan industri penyelenggaraan event dalam pengembangan diri di dunia olahraga beladiri keras asal Thailand ini.  alt

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *