‘Drupadi’ Bakal Meriahkan FSBJ IV/2022

oleh -190 Dilihat
Latihan Teater Monolog ‘Drupadi’ yang akan pentas dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) IV tahun 2022 secara hybrid dari Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali pada Sabtu (15/10).  

– Kolaborasi Arcana Foundation dan Kitapoleng Bali

DENPASAR, POS BALI – Sosok ‘Drupadi’ bakal dihadirkan sebagai perempuan yang berani menggugat sistem patriarki yang telah melekat sejak masa klasik sampai kehidupan manusia di masa kini.

Suguhan Teater Monolog ‘Drupadi’ ini, bakal dipentaskan dalam ajang Festival Seni Bali Jani (FSBJ) IV tahun 2022 secara hybrid dari Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali pada Sabtu (15/10). Pentas ini juga dapat disaksikan secara streaming lewat kanal Youtube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Pentas ini digarap dengan pendekatan multimedia yang memesona hasil kolaborasi antara Arcana Foundation dan Kitapoleng Bali dengan dukungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Monolog ‘Drupadi’ ditulis sastrawan Putu Fajar Arcana tahun 2020 saat pandemi Covid-19 mencabik-cabik kehidupan manusia di seluruh dunia. Ketika interaksi secara fisik benar-benar dibatasi, Putu mencari terobosan dengan menulis naskah berbasis teknologi multimedia.

“Tadinya monolog ini disiapkan untuk tayangan di kanal online, tetapi karena pembatasan sosial sudah mulai dilonggarkan, maka sekarang kita bisa menyaksikannya secara langsung,” ujar Putu yang langsung turun tangan menyutradarai monolog ini, di Denpasar, Selasa (11/10).

Menurutnya, saat ini seluruh pendukung pentas ‘Drupadi’ sedang berlatih di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Secara khusus, Putu menggandeng seniman Dibal Ranuh untuk menyutradarai segmen-segmen visual yang dibutuhkan dalam pementasan.

Penggunaan dua sutradara dalam satu pertunjukan, tambah Putu, menjadi hal baru dalam proses kreatif berkesenian di Indonesia. Proses semacam ini sangat dimungkinkan untuk memaksimalkan kemampuan masing-masing.

“Prinsipnya, tidak ada sutradara yang menguasai semua hal. Oleh sebab itu, seorang sutradara harus mendistribusikan kewenangannya kepada para seniman lain yang dinilai memiliki kecakapan khusus,” pungkasnya.

Sementara itu, Produser ‘Drupadi’ Joan Arcana, Arcana Foundation memilih berkolaborasi dengan Kitapoleng Bali yang memiliki pengalaman dalam menggarap seni visual. “Di situ ada Dibal Ranuh dan Jasmine Okubo. Keduanya sudah sering melahirkan karya-karya visual yang bagus,” kata Joan Arcana.

Selain itu, dalam penggarapan ‘Drupadi’, Arcana Foundation melibatkan seniman-seniman Bali lainnya seperti seniman gamelan Sraya Murtikanti, senian cello Kharissa Sadha, dan musisi tekno Agha Praditya. Ketiganya, kata Joan, akan berkolaborasi dalam menghasilkan karya musik yang tetap berbasis pada tradisi tetapi memberikan perspektif baru di masa kini.

Kolaborasi semacam ini, ujar Joan, amat penting dalam merespons spirit yang mendasari FSBJ. Sebagai entitas kebudayaan, Bali tidak pernah berhenti dalam gelimang kesenian tradisi.

“Bali terus bergerak mengikuti dinamika di tengah-tengah masyarakat modern. Dan tugas generasi terkinilah untuk melahirkan karya-karya yang memiliki kesinambungan antara masa lalu, kini, dan bahkan nanti,” pungkasnya. alt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *