Angka TFR Bali Terendah di Indonesia

oleh -235 Dilihat
Angka TFR Bali Terendah di Indonesia

DENPASAR, POS BALI – Provinsi Bali memiliki angka total rata-rata kesuburan/total fertility rate (TFR) 1,9, dan merupakan terendah di Indonesia. Angka TFR 1,9 ini, berarti satu orang perempuan yang tinggal di Bali hanya melahirkan satu atau dua anak selama masa reproduksinya. Kendati demikian tingkat persentase unmet need atau kebutuhan ber-KB yang tidak terlayani masih tinggi.

Hal itu terungkap saat Perwakilan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali bersama Balai Pelatihan Kesehatan Masyarakat (Bapelkesmas) Bali menggelar pelatihan pelayanan kontrasepsi bagi dokter dan bidan Angkatan II yang dilaksanakan secara blended learning atau teori dan praktek lapangan di Denpasar, Selasa (25/10).

“Kita perlu bersyukur karena capaian TFR kita sudah rendah dibanding provinsi lain. Namun capaian unmet need kita masih cukup tinggi, sehingga pelayanan kontrasepsi tetap harus ditingkatkan untuk menjaga agar angka TFR tidak naik,” kata Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, dr. Ni Luh Gede Sukardiasih.

Dia menjelaskan, pelatihan ini sebagai upaya memaksimalkan kualitas layanan KB melalui peningkatan kapasitas tenaga Kesehatan. “Ini merupakan satu bentuk apresiasi BKKBN terhadap para tenaga kesehatan,” ujar dia.

Lanjutnya, Unmet Need merupakan persentase perempuan kawin yang tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan kelahiran namun tidak terlayani dalam penggunaan kontrasepsi.

Dr. Luh De mengatakan berdasarkan data Pendataan Keluarga tahun 2021 (PK-21), persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi atau Unmet Need baru terealisasi 17,90 persen dari target 7,94 persen.

Kondisi ini menurut dr. Luh De perlu menjadi perhatian bersama dalam rangka meningkatkan kesertaan ber KB oleh pasangan usia subur (PUS) terutama KB metode kontrasepsi jangka Panjang (MKJP).

Dia menambahkan, target peserta KB baru khususnya IUD dan implant di Provinsi Bali berdasarkan data SIGA tahun 2022 masih sangat rendah, yaitu dari target sebanyak 11.507 (IUD) baru terealisasi sebesar 1.605 atau sebesar 13,95 %.

“Demikian pula halnya dengan target KB baru implan sebesar 1.732 baru terealisasi sebesar 564 atau sebesar 32,56 %,” ujarnya.

Melihat dari hasil praktek lapangan, kata dia, dari target 45 akseptor telah terpenuhi. Namun dalam pelayanannya belum ada pemasangan KB Pasca Salin di fasilitas kesehatan yang menjadi tempat praktek peserta.

“Jika dilihat dari kacamata program, tentunya sangat baik, hal ini mengindikasikan rendahnya angka melahirkan di Bali, yang sejalan dengan rendahnya TFR. Namun sangat disayangkan para peserta tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktek langsung KB Pasca Salin” tambah dia.

Diharapkan peserta pelatihan pelayanan KB Angkatan II dapat mengikuti kegiatan dengan maksimal dan dalam praktiknya dapat mengaplikasikan ilmunya secara langsung pada sasaran sesuai dengan yang ditargetkan.

Kegiatan ini diikuti peserta yang terdiri dari Dokter maupun Bidan yang memberikan pelayanan KB di fasilitas pelayanan kesehatan baik yang berasal dari unsur Rumah Sakit/Klinik, Puskesmas, maupun Praktek Mandiri (PMB/PMD). rl/BKKBN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *