CCEP dan Malu Dong: Sampah Tidak Salah, Masyarakat Kurang Edukasi

oleh -205 Dilihat
Lucia Karina tampak berbincang dengan Om Bemo

DENPASAR, POS BALI – Stiker meme muka sedih bertuliskan ‘Malu Dong’ terpampang jelas di pintu masuk menyambut para awak media yang datang satu persatu ke Malu Dong Space, Jalan Sahadewa No 20 Denpasar, Jumat (4/11) pagi.

Sejurus kemudian, dua staf dari Coca Cola menyambut dengan ramah para awak media. “Selamat pagi, selamat datang,” kata Regional Corporate Affairs Manager, Armytanti Kasmito menyapa dengan ramah sembari melempar senyum.

Nah, Jumat pagi ini Coca Cola menyerahkan donasi program Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia bertajuk ‘Dukung Aksi Pilihanku’ ke yayasan peduli lingkungan Malu Dong Buang Sampah Sembarangan senilai €12,5 ribu.

Donasi itu, diberikan karena yayasan ini memiliki kontribusi positif kepada masyarakat dan lingkungan. Malu Dong dinilai memiliki komit dan melakukan aksi nyata menanggani masalah sampah di Bali.

Direktur Public Affairs, Communication, Sustainability, Lucia Karina menuturkan, pihaknya sudah berkolaborasi cukup lama dengan yayasan ini. Setiap ada kegiatan bersih bersih selalu ada Malu Dong.

“Yayasan Malu Dong memangkan katagori lingkungan. Saya salah satu pendukung Yayasan Malu Dong,” tuturnya.

Dikatakan, kesalahan bukan pada sampah tapi tata cara perilaku manusia. Contohnya plastik ditemukan pertama kali untuk mengatasi permasalahan manusia.

Namun dalam perjalannya, manusia lupa untuk mengolahnya. “Sampah plastik bisa didaur ulang,” ungkapnya.

Pihaknya yakin, masyarakat Bali yang kreatif bisa mengolah sampah menjadi barang seni dan bernilai jual tinggi.

“Plastik ini tidak salah. Karena mencegah pemanasan global. Tapi kalau salah menanggani, maka akan fatal. Masyarakat belum siap, sehingga penanganan sampah dengan cara membakar. Ini karena kurang edukasi,” pungkasnya.

Pendiri Yayasan Malu Dong, Komang Sudiarta yang akrab disapa Om Bemo menuturkan, Yayasan Malu Dong berdiri di tahun 2009.

Kata dia, aksi sosial yang dilakukan ini untuk memupuk generasi baru yang peduli lingkungan. Karena, dia melihat mental manusia turun, sehingga menyasar sekolah-sekolah untuk mendidik sejak dini peduli terhadap lingkungan.

“Kami ada diposisi edukasi dengan cara aksi bukan teori. Masih banyak PR di sekolah-sekolah yang belum kali lakukan. Mengingat banyak sekolah yang belum memiliki fasilitas,” tuturnya.

Pihaknya mendukung anak-anak untuk peduli lingkungan dengan rompi, buku, dan trash bag. Anak-anak sekolah diberi edukasi agar menjadi contoh paling tidak dikeluarganya, bagaimana membuang sampah pada tempatnya.

“Permasalahan sampah tidak bisa diselesaikan di hilir, tapi di hulu. Untuk itu kami mengedukasi masyarakat sejak usia dini dengan menyasar sekolah-sekolah,” katanya.

“Kami akan hadir di mana saja jika dibutuhkan. Kami tidak ada apa-apanya, hanya ada semangat dan keseriusan,” ujar Om Bemo dengan nada sedih sembari mengusap air mata.

CCEP Indonesia menegaskan, aksi sosial peduli lingkungan bukan mencari popularitas. Akan tetapi menjadi role model yang bisa diduplikasi, ditiru untuk peduli terhadap penanganan sampah.

Untuk itu, CCEP turun langsung ke bawah memberikan pelatihan dengan harapan mampu menaikkan perekonomian khususnya masyarakat yang berkecimpung dan mengantungkan hidup dari memilah sampah. alt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *