Koperasi Asas Gotong-royong dan Kekeluargaan

oleh -151 Dilihat
Putri Koster

DENPASAR, POS BALI – Koperasi dengan asas gotong royong dan kekeluargaan memiliki sejumlah fungsi dalam mewadahi kesejahteraan anggota dan masyarakat sekitarnya. Hal tersebut disampaikan Ketua TP PKK Provinsi Bali, Putri Suastini Koster dalam siaran pers yang diterima redaksi POS BALI, Selasa (20/12).

“Dengan asas kekeluargaan, mengharuskan setiap anggota koperasi memiliki kesadaran untuk melakukan yang terbaik di setiap kegiatan koperasi, dan hal-hal yang dianggap berguna untuk semua anggota dalam koperasi,” ungkapnya.

Dikatakan, terkait asas gotong royong dalam koperasi, mengamanahkan kepada anggota koperasi untuk menjalankan perekonomian rakyat secara bersama atau berkelompok membentuk suatu badan usaha, dengan cara mengelola modal bersama-sama.

Untuk itu, Putri Koster mengajak seluruh masyarakat Bali yang memiliki potensi lokal dalam memproduksi kerajinan tangan untuk bergabung membentuk koperasi secara sadar dan bekerja sama mewujudkan asas yang berkeadilan dan pemerataan.

“Hal ini dimaksudkan bahwa setiap orang yang tergabung dalam kelompok kemudian membentuk koperasi sebagai wadah untuk menampung hasil karya atau produksi yang dihasilkan,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga berharap, bahan-bahan produksi untuk kerajinannya juga disiapkan, dan jika memungkinkan hanya ditemukan/dijual oleh koperasi itu sendiri, sehingga perputaran ekonomi akan jelas.

“Saya contohkan produksi tenun. Jadi koperasi menyiapkan benang atau bahan kain tenun yang dijual dengan harga standar. Kemudian apabila benang ini sudah dirajut menjadi kain tradisional tenun maka koperasi tersebutlah yang akan menampung (membeli dari penenun yang juga termasuk menjadi anggota, red) dan kemudian menjualnya kembali kepada masyarakat,” ujarnya.

Putri Koster juga mengingatkan, pengelolaan manajemen koperasi harus jujur, telaten dan berkeadilan agar tidak ada usaha pribadi di dalam koperasi.

“Bahan-bahan yang disiapkan juga bersifat standar dan kain tradisional yang dijual juga akan standar, tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Semua akan disesuaikan dengan harga bahan baku. Produksi kain juga tidak akan stagnan atau berhenti dalam waktu yang sangat lama lantaran menunggu hasil tenunan laku dulu,” pungkasnya. alt

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *