Stunting Indonesia Turun

oleh -157 Dilihat
Peserta Rakernas tampak foto bersama di Ruang Auditorium BKKBN, Halim Perdanakusuma, Rabu (25/1).

JAKARTA, POS BALI – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional melaksanakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Ruang Auditorium BKKBN, Halim Perdanakusuma, Rabu (25/1).

Pada rapat kerja nasional (Rakernas) ini membahas strategi pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (Program Bangga Kencana) khususnya pada percepatan penurunan Stunting 2023.

Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) turut menghadiri dan membuka secara resmi Rakernas BKKBN. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menegaskan bahwa penurunan stunting semestinya dapat turun mencapai target 14% di tahun 2024.

“BKKBN memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang banyak hingga ke lapangan dan dapat digerakkan sehingga menurut saya penurunan target bukan menjadi hal yang sulit asal kita mau dan jangan sampai keliru mencari solusi. Saya meyakini 1,2 juta penyuluh yang ada di BKKBN plus pendampingnya mampu melakukan itu,” kata Jokowi saat membuka Rakernas.

Pada kesempatan yang sama juga disampaikan Hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 oleh Kementerian Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menunjukkan bahwa angka Stunting di Indonesia berhasil turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di tahun 2022.

Ditambahkan, Jokowi menyatakan senang karena selama delapan tahun ini menghasilkan penurunan yang sangat drastis dari 37%.

“Iya, kita senang bahwa sejauh ini selama delapan tahun turun dari 37% menjadi 21,6% tahun 2022 dan target kita di tahun 2024 harus turun menjadi 14% karena memang  standar di WHO itu 20%. Kalau perlu harus dibawah 14%”, tegas Presiden Jokowi

Tidak hanya secara nasional, Kasus Stunting di Provinsi Bali juga ikut menurun 2,9% dari 10,9% pada Tahun 2021 menjadi 8,0%. Berdasarkan hasil tersebut, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali mengapresiasi seluruh tim yang telah bekerja khususnya dalam penanganan stunting.

“Dengan hasil SSGI tahun 2022, kita patut bersyukur bahwasanya kerjakeras kita semua termasuk masyarakat Bali sangat bagus, Bali sendiri mencapai di 1 digit angka dan kembali menjadi terendah di Indonesia. Namun, kita tidak boleh terlena dan tetap terus berupaya lebih maksimal dalam pencegahan stunting di Bali,” ujarnya

Kendati berhasil menurunkan 2,9% masih ditemukan beberapa Kabupaten yang angka stuntingnya meningkat yaitu Kabupaten Buleleng yang sebelumnya 8,9% meningkat menjadi 11,0% dan Kabupaten Gianyar yang sebelumnya 5,1% meningkat menjadi 6,3%.

Menanggapi hal tersebut, dr. Luh de mengatakan bahwa meningkatnya angka stunting di Kabupaten Buleleng dan Gianyar menjadi perhatian kita khususnya BKKBN Provinsi Bali dalam evaluasi kinerja percepatan penurunan stunting.

“Kita perlu lebih serius dan menganalisis dengan cermat terlebih dahulu apa saja yang menjadi faktor penyebab naiknya kenaikan tersebut sehingga kita bisa fokus memberikan intervensi dan meningkatkan kerjasama, konvergensi dan konsolidasi dengan tim internal dan lintas sektor lebih baik lagi”, jelasnya.

Selanjutnya, dr. Luh de menjelaskan strategi ke depannya, perwakilan BKKBN Provinsi bali akan mengintensifkan pencegahan dari hulu dengan sasaran remaja melalui kelompok Remaja yang ada baik secara formal dan non formal seperti program Genre, PIK-R/M, Yowana di sekolah dan kampus.

“Kedepannya kita fokus ke pencegahan stunting dari hulu, skrining catin akan kita gencarkan melalui advokasi Kembali ke lintas sektor terkait seperti Kemenag, Majelis Desa Adat, Dinas PMA dan OPD terkait,” ucap dr. Luh De

Sosialiasi melalui media terutama media sosial juga dianggap sangat penting oleh dr. Luh De untuk menggencarkan program Bangga Kencana khususnya penurunan Stunting di Provinsi Bali. “Kita juga akan lebih optimalkan aplikasi yang sudah ada kepada masyarakt serta Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dari tingkat Provinsi sampai Desa, Tim Pendamping keluarga dan lini lapangan akan kita maksimalkan perannya,” tambah dr. Luh De

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi bali berharap bahwa agar seluruh unsur baik BKKBN Provinsi Bali maupun lintas sektor terkait dapat meningatkan potensi diri dan tupoksi masing-masing, meningkatkan koordinasi, komunikasi dan kerjasama sehingga harapan kita akan mencapai target penurunan stunting pada 2024 menjadi 6,15%. alt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *