Lantunan Pupuh Ginada, Sikap Hormat dan Rendah Hati ke Orang Lain

oleh -127 Dilihat
Suasana Pengukuhan Guru Besar, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum

Da ngadén awak bisa, depang anaké ngadanin, geginané buka nyampat, anak sai tumbuh luu, ilang luu ebuk katah, yadin ririh liu enu paplajahan

 

DENPASAR, POS BALI – Tembang Pupuh Ginada yang memiliki nilai-nilai filosofis, dan bisa dijadikan landasan dalam pendidikan karakter itu dilantunkan dengan apik oleh Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum., dalam orasi ilmiah bertajuk ‘Sastra Bali Tradisi Sebagai Landasan Konstruktif Pendidikan Berbasis Karakter’, saat acara pengukuhan dan pelantikannya sebagai guru besar tetap di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia.

Dijelaskan, da ngadén awak bisa ‘jangan mengira dirimu pandai’, mengandung makna bahwa tidak boleh menyombongkan kepandaian kepada orang lain, seperti ilmu padi semakin berisi semakin merunduk. Kemudian, depang anaké ngadanin yakni biarkan orang lain yang menilai.

“Pengakuan atas eksistensi diri akan muncul dari orang lain apabila kita memang layak mendapatkannya. Jadi, secara implisit kita diajarkan untuk membangun sikap hormat dan rendah hati kepada orang lain,” ujarnya dalam acara yang berlangsung di Aula Serba Guna UPMI, Kamis (8/6).

Selanjutnya, geginané buka nyampat ‘pekerjaanmu ibarat orang menyapu’, mengandung makna filosofis bahwa orang yang belajar diibaratkan seperti orang yang menyapu. Kegiatan yang senantiasa dilakukan berulang-ulang. Berikutnya, anak sai tumbuh luu ‘senantiasa ada saja sampah yang timbul’ mengandung pengertian bahwa pengetahuan/ ilmu itu selalu berkembang, tidak akan ada ilmu yang statis atau berhenti di tengah jalan. “Ilmu itu selalu mengalir bagaikan air. Selalu memancar bagaikan matahari,” ungkapnya. 

Ilang luu ebuk katah ‘hilang sampah, debu masih banyak’ bermakna ketika sudah menguasai satu pengetahuan maka akan timbul lagi pengetahuan/ilmu lain yang harus dipelajari.  Yadin ririh liu enu paplajahan artinya walaupun pandai masih banyak yang harus dipelajari. Ungkapan ini mengandung maksud bahwa kemampuan yang miliki tidaklah seberapa, bagaikan setitik air di samudera luas.

“Pengetahuan tidak mengenal batas akhir, pengetahuan akan selalu hidup dan berkembang. Walaupun diri pandai, ternyata masih banyak hal yang harus dipelajari dan masih banyak orang-orang pandai yang melebihi kita, di atas langit masih ada langit,” ungkapnya.

Apresiasi dan ucapan selamat pun disampaikan Ketua Umum PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., yang hadir dalam pengukuhan Prof Suarta oleh Kepala LLDikti Wilayah VIII, Dr I Gusti Lanang Bagus Eratodi ST., MT.

Dia menilai, UPMI sejajar dengan perguruan tinggi ternama lainnya. Karena bisa melahirkan empat guru besar dalam waktu hampir bersamaan. “Artinya, UPMI bisa membuka program doktor, dan membuka ruang pikir masyarakat bahwa UPMI ini adalah kampus yang patut untuk dipilih,” ungkapnya.

Terkait orasi ilmiah, Prof Unifah menilai sangat keren. Karena seni dikonstruksikan menjadi bagian pendidikan karakter. “Ini menjadi karakter orang bali yang tidak pernah menyerah, selalu menciptakan perdamaian, hingga gotong royong, itu hal yang keren banget. Jadi guru-guru tidak takut menghadapi perkembangan teknologi,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali, Drs. IGB Arthanegara, SH., MH., MPd., mengungkapkan, pengukuhan Prof Suarta menjadi nuansa yang luar biasa bagi UPMI. Menurutnya, Prof Suarta menjadi guru besar kedua dari alumni UPMI yang sebelumnya bernama IKIP PGRI Bali. “Rektor UNHI di Palangkaraya juga merupakan guru besar yang dimiliki UPMI Bali,” ungkapnya.

Arthanegara menuturkan, Prof Suarta benar-benar dari bawah. Di UPMI sejak tahun 1983 menjadi pegawai tata usaha sambil kuliah di IKIP PGRI Bali, sampai dengan menjadi lulusan sarjana angkatan pertama, yang kemudian melanjutkan  ke program magister, dan doktor di Universitas Udayana. Nasib mujur rupanya berpihak, Prof Suarta kemudian diangkat sebagai PNS Dosen DPK yang dipekerjakan di UPMI.

“Tak hanya gelar sarjana pendidikan, tapi juga berhasil mempersunting teman kuliah, dan memiliki tiga anak yang semuanya sarjana. Ada yang sebagai dokter, dokter gigi, dan sarjana IT. Jadi saya sudah 40 tahun menjadi teman baik beliau,” tuturnya. alt/*

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *