Jokowi Menjadi Rebutan

oleh -154 Dilihat
Made Nariana,

Oleh: Made Nariana

MENJELANG peralihan kepemimpinan di Indonesia, baru kali ini seorang Presiden menjadi rebutan kekuatan politik. Joko Widodo (Jokowi) – yang tinggal beberapa bulan menjadi Presiden mendapat dukungan 82 persen lebih dari rakyatnya. Artinya 82 persen lebih rakyat Indonesia senang dengan kepemimpinan Jokowi.

DENPASAR, POS BALI – Jika dibandingkan dengan Presiden SBY sebelumnya, setahun sebelum SBY mengakhiri masa jabatannya hanya mendapat simpati rakyat di bawah 50 persen.

Logika waras rakyat, Jokowi dianggap berhasil memimpin bangsa ini selama dua periode atau 10 tahun.

Kalau 82 persen senang dengan Jokowi, berarti ada 18 persen tidak senang atau belum memberi pendapat. Di antara mereka itu adalah Rizal Ramli, Amien Rais, Rocky Gerung, malah juga Yusuf Kalla  dan sejumlah pengamat atau pemilik Podcast yang pernah menjadi pejabat di zaman Jokowi.

Karena diberhentikan di tengah jalan, mereka balik menjadi pembenci Jokowi. Benar-benar kelihatan jiwa  frustrasi sejumlah kecil tokoh Indonesia. Mereka diganti pasti karena dianggap gagal dalam melaksanakan pekerjaan.  Kaum radikalis, yang  doyan membolak balik data juga termasuk tidak senang dengan Jokowi.

Calon Presiden Nasdem Anies Baswedan, — kelihatan tidak senang dengan Jokowi sehingga apa yang dikerjakan Jokowi dimanipulasi. Capres ini memuji SBY dalam membangun jalan di Indonesia.  Capres dapat data dari mana? Kok belum jadi Presiden, sudah memanipulasi data? Nggak malu ya, padahal S-3 tamatan Amerika Serikat!.

Sampai ulama besar dari NTB, Tuan Guru Bajang dibuat kesal dengan Capres AB ini. Tuan guru dengan gamblang menuturkan, bagaimana keberhasilan Jokowi dalam membangun jalan tol dan non-tol sampai ke desa, dibandingkan jaman SBY.  Nggak malu Mas Anies?

Terlepas  dari ada yang tidak suka dengan sukses Jokowi menjadi Presiden, kini Jokowi menjadi rebutan dua kekuatan politik di tanah air. Kemana telunjuk Jokowi, itulah yang konon akan menggantikannya menjadi pemimpin negeri 062 ini, yang media sosialnya penuh caci dan maki, fitnah dan hoax.

Jokowi diklaim antara kekuatan Gerindra dengan capres Prabowo Subianto (PS) dan kekuatan PDI-P yang capresnya Ganjar Pranowo (GP). Kedua baik PS dan GP menganggap sama-sama mendapat dukungan dari Jokowi. Sebab ada konotasi, kemana arah Jokowi ke situlah pendukung Jokowi akan memberikan suara kepada calon penggantinya.

Tetapi yang pasti dalam Rakernas PDI-P terakhir awal Juni 2023, pidato Jokowi menyatakan dan memuji GP sebagai orang bernyali dan berani. “Indonesia memerlukan orang berani dan bernyali. Itu ada pada GP,” kata Jokowi.

Sebaliknya Jokowi belum pernah memberikan pujian seperti itu kepada PS. Namun pendukung PS, hanya membaca gestur Jokowi dan dianggap memberikan sinyal dukungan kepada PS. Mana yang benar? Hanya rakyat yang dapat menilai!

Saya mencatat, PS belum dapat dukungan partai lain kecuali Gerindra dan PKB yang juga ragu – jika Bosnya Muamin Iskandar tidak dijadikan Cawapres. Sementara GP selain didukung penuh PDI-P, juga mendapat dukungan PPP, Perindo, PSI dan banyak partai non-parlemen lainnya. Kelihatan juga PAN akan mendukung GP.  Relawan juga bertebaran di mana-mana, termasuk di semua negara di luar negeri. Luar biasa buat GP!

PB NU sendiri mendukung Jokowi cawe-cawe menjelang pergantian kepemimpinan di Indonesia demi bangsa dan negara. Kalau ormas NU sudah setuju begitu, ke mana arah dukungan massa NU — sudah semakin jelas. Kaum kadrun dan radikal yang ingin mengganti Pancasila dengan sistem lain memang harus tetap diwaspadai.

Pembangunan yang dilaksanakan Jokowi telah diterima 82 persen rakyat Indonesia. Nah, siapa pun kelak mengganti Jokowi, melanjutkan pembangunan, Pancasila, NKRI, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika — harga mati! (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *